Muh Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good Corporate Governance, pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai investasi pemegang saham dalam jangka panjang. BerikutSahamPemula coba berikan KAMUS SAHAM istilah-istilah umum yang digunakan Trader di dunia Saham : Lot merupakan satuan terkecil untuk dapat melakukan transaksi pembelian maupun penjualan saham. 1 Lot terdiri dari 100 Lembar saham. TP merupakan singkatan dari Take Profit yang artinya ambil untung. TP biasanya dilakukan saat Valuesaham Get link; Facebook; Twitter; Pinterest; Email; Other Apps - November 29, 2017 Value saham. Bagaimana untuk mengira nilai sesuatu saham di sudut analisis fundamental. Contoh: Jika harga saham syarikat A adalah RM2.50 dan earnings setahun nya ialah RM0.12 jadi PE nya ialah ( = 20.83). NilaiNominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo. Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan). Kupon obligasi dinyatakan dalam Selaindari luar negeri, banyak juga contoh value investor asal Indonesia yang berhasil menerapkan strategi investasi ini di dalam negeri. Sebut saja Lo Kheng Hong, beliau mampu mendapatkan pengembalian senilai Rp 44,78 miliar dari saham PTRO. Strateginya juga sama, beliau membeli saham yang nilainya di bawah fair value. Ketika harga turun Hubunganharga saham dengan capital structure adalah seperti dalam Gambar 1. Pada awalnya capital structure (dalam hal ini diproksi dengan debt ratio) adalah 36,15% dan harga saham perusahaan adalah Rp1.100 per lembar. Sedangkan pada titik optimal, debt ratio adalah 30% dan harga saham perusahaan adalah Rp1.777 per lembar. Lawandari saham undervalued adalah saham overvalued, dan adalah nilai sekarang (present value) dari arus kas imbal hasil yang di harapkan (expected cash flows) (Joseph, 2009). Dengan kata lain, hal yang melatarbelakangi yaitu analisis fundamental top – down approach. Penentuan nilai, Ivalandari, FE UI, 2010. 2.3.1. Analisis Disclaimer Trading adalah instrumen bersiko tinggi. Sebelum memulai, pastikan Anda juga memahami risiko di dalamnya, jangan hanya tergiur dengan profit semata. Ini mencakup instrumen saham, forex, cryptocurrency, komoditas, derivatives, binary option, dan sebagainya. Gunakan uang dingin, uang yang Anda siap untuk kehilangan (jika terjadi YjVZ. Value investing adalah metode pembelian saham di bawah harga wajarnya dari perusahaan yang berpotensi. Cari tahu keunggulan dan keterbatasan balue investing di meraup keuntungan maksimal, seorang investor tentu memerlukan strategi dalam berinvestasi. Salah satu teknik yang dilakukan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan dalam investasi saham adalah value investing. Value investing adalah langkah pembelian saham dengan harga murah dari perusahaan berpotensi. Konon, prinsip value investing juga digunakan oleh salah satu orang terkaya di dunia yaitu Warren Buffet. Di Indonesia, ada Lo Kheng Hong yang dikenal sebagai value investor yang sukses menerapkan prinsip value investing. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang apa itu prinsip value investing, bagaimana cara value investing serta kekurangan dan kelebihan value investing. Apa itu Value Investing? Value investing adalah kegiatan menginvestasikan saham yang pada saat ini memiliki harga di bawah nilai intrinsiknya. Kegiatan ini dilakukan dengan cara membeli value stock dengan memperhatikan nilai intrinsik yang diperoleh berdasarkan analisis kinerja perusahaan. Value stock adalah saham dari emiten yang harganya dinilai lebih murah dari nilai intrinsiknya. Dalam berinvestasi, ada yang melakukan trading, ada juga yang melakukan investing. Seorang trader ingin mendapatkan keuntungan dalam waktu yang singkat. Sedangkan investor cenderung ingin memiliki keuntungan di masa depan. Jika Anda memilih sebagai seorang investor, maka Anda adalah seorang value investor. Value investor adalah seseorang yang menginvestasikan harga saham yang saat ini ada berada di bawah nilai intrinsiknya. Seorang investor tidak dapat menerapkan prinsip value investing hanya berdasarkan feeling. Dalam penerapannya, setiap investor melakukan analisis dan perhitungannya masing-masing. Ada beberapa strategi bagi untuk menerapkan bagaimana cara value investing. Prinsip Value Investing yang Perlu Diperhatikan Seorang value investor tidak asal melakukan pembelian. Dalam prinsip value investing, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan agar value investing menghasilkan keuntungan yang besar. Anda ingin menjadi value investor yang sukses? Yuk perhatikan hal-hal di bawah ini! 1. Memilih Metode Analisa Untuk menganalisa strategi saham, ada dua strategi yang bisa Anda gunakan. Anda bisa menganalisa dengan metode analisis top down, dimana Anda bisa menganalisanya dari kondisi ekonomi makro, lalu mengerucut pada fundamental perusahaan. Sementara itu, ada yang memulai analisa saham dengan istilah analisis bottom-up. Kebalikan dari analisis sebelumnya, analisis ini menilai saham dari bawah ke atas. Caranya dengan mengecek kondisi fundamental perusahaan terlebih dahulu. Lalu berlanjut menganalisa masalah ekonomi yang mempengaruhi pergerakan harga saham. 2. Memantau Sektor yang Trending Strategi ini menjadi langkah pertama ataupun langkah kedua setelah Anda memilih metode value investing. Pada dasarnya, Anda harus mengetahui sektor mana saja yang sedang diminati oleh masyarakat atau yang sedang trending. Membaca trend saham juga membantu Anda lebih peka terhadap keadaan pasar saham saat ini. Sehingga nantinya dapat mendukung keputusan pembelian saham. Selain itu, sektor trending maka Anda tidak hanya mendapat capital gain yang besar, namun juga bisa memperoleh keuntungan yang lebih cepat. Bahkan, bisa hanya dalam hitungan hari. Menarik bukan? 3. Melakukan Screening Saham dengan Fundamental yang Bagus Hingga sampai saat ini, sudah ada lebih dari 600 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Sehingga untuk melakukan screening dengan lebih efektif, Anda harus menetapkan kriterianya. Cara sederhananya adalah mengelompokkan emiten yang memiliki REO Return on Equity lebih dari 15%, PBV Price to Book Value dibawah 1x, atau PER Price to Equity Ratio kurang dari 10. Jika Anda sudah mendapatkan daftar emiten dengan kriteria di atas, Anda bisa mengecek saham tersebut satu per satu. Jadi, Anda tidak perlu menghabiskan waktu untuk mengecek semua saham di BEI. 4. Mengetahui Valuasi dan Nilai Intrinsik Saham yang Akan Dibeli Sebagai value investor, Anda wajib mempelajari bagaimana cara menilai harga saham tersebut. Dalam prinsip value investing, yang dinilai sebenarnya adalah harga wajar atau harga sebenarnya dari saham tersebut atau yang disebut dengan book value. Anda bisa mengikuti apa yang digunakan oleh Warren Buffet, yaitu hanya menggunakan dua rasio untuk menilai valuasi suatu saham. Kedua rasio tersebut adalah PER Price Earning Ratio dan PBV Price to Book Value. 5. Menganalisa Faktor Fundamental Perusahaan Untuk mengetahui fundamental perusahaan, hal wajib yang harus dilakukan adalah membaca laporan keuangan terbarunya. Apa saja hal wajib yang perlu diketahui dalam sebuah laporan keuangan? Pernyataan direktur ataupun yang menyajikan laporan keuangan Aset lancar dan tidak lancar Liabilitas dan ekuitas Laba/rugi Laporan arus kas Catatan-catatan keuangan 6. Menentukan Waktu Tepat Membeli Saham Waktu paling tepat untuk seorang value investor membeli saham adalah pada saat harga saham undervalued atau lebih murah di bawah nilai intrinsiknya. Contohnya harga saham PGAS yang dihargai PBV 1,5 kali, dan nilai PBV tersebut adalah yang paling rendah. Lalu, saham secara signifikan naik beberapa tahun kemudian namun karena ada rumor, maka akan menjadi turun lagi. Kebetulan, karena pada saat itu PBN nya menurun di angka 1,5 lagi, maka pada saat itulah saat yang tepat membeli saham PGAS. 7. Melakukan Pemantauan Selain menganalisa dan membeli saham, melakukan value investing adalah juga mengawasi saham yang terdapat di dalam portofolionya. Caranya adalah dengan memantau performa dan membaca laporan keuangan terbaru secara langsung di situs resmi IDX di 8. Menentukan Waktu Jual Saham Selain harus menentukan waktu yang tepat dalam membeli saham, Anda juga harus cermat dalam menjual saham. Sebagai contoh, setelah Anda selesai melakukan pemantauan ternyata terdapat saham yang Anda beli mengalami kerugian atau masalah tertentu. Maka pada saat itulah Anda harus segera menjualnya. Hal paling penting adalah jangan gegabah dalam melakukan penjualan dan pembelian saham, sehingga hanya menjual dan membeli karena labanya turun sedikit, atau terkena syndrome FOMO Fear of Missing Out karena orang lain ramai membeli saham tertentu. Disini Anda justru menerapkan teknik investasi lain yang dinamakan sebagai momentum investing. Momentum investing adalah gaya investasi di mana investor latah mengikuti gerak-gerik investor lainnya dalam menjual atau membeli saham. Jadi, jangan sampai Anda latah karena tindakan orang lain dan gegabah dalam mengambil keputusan. Keunggulan dan Keterbatasan Value Investing Indonesia Dalam menerapkan prinsip value investing, terdapat sejumlah keunggulan dan kelemahan yang bisa Anda jadikan bahan pertimbangan Keunggulan Value Investing Kabar baiknya, siapapun bisa memakai teknik value investing saham. Value investing bisa dipakai untuk menerapkan value investing saham dengan modal yang terbatas. Namun perlu diingat, Anda harus tetap membaca kondisi fundamental perusahaan. Selain itu, penggunaan metode value investing dapat mengoptimalkan power of compounding. Compounding merupakan kemampuan investasi untuk bunga yang berlipat ganda. Seiring berjalannya waktu, investasi akan mengalami pertumbuhan eksponensial sebagai dampak pertumbuhan harga saham dan dividen yang dibagikan. Value investing merupakan teknik yang sudah teruji oleh Warren Buffet selama berpuluh-puluh tahun dan sukses membawanya menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Keterbatasan Value Investing Dilihat dari cara pengukurannya nilai intrinsik, sebuah saham cenderung sulit diukur karena penggunaan metode yang berbeda. Cara pengukuran ini tergantung pada akses informasi masing-masing investor. Salah satu alat yang digunakan oleh value investor untuk menganalisis adalah laporan keuangan. Penyusunannya dilakukan berdasarkan kinerja historis perusahaan. Kinerja masa lalu tidak bisa menjamin kinerja masa depan dan ada hal yang bisa diukur oleh estimasi dari manajemen. Menjadi Value Investor Yang Berhasil Setelah mempelajari apa itu prinsip value investing dengan berbagai strateginya, maka Anda sudah bisa mencoba untuk mengaplikasikannya untuk investasi jangka panjang. Namun, apakah value investing sama dengan investasi jangka panjang? Karena value investing dilakukan ketika sebuah nilai saham dinilai murah dan akan dijual ketika nilainya telah menguntungkan atau meningkat, maka value investing bisa dikatakan sebagai salah satu strategi investasi jangka panjang. Jangan lupa untuk mempelajari suatu saham dari fundamentalnya, dan jangan mudah gegabah dalam mengambil keputusan. Lakukanlah berbagai analisa yang mendalam sebelum mengambil keputusan agar bisa meminimalisir berbagai risiko yang tidak diinginkan. Apabila Anda belum siap berinvestasi pada perusahaan besar dan ingin memulai berinvestasi dengan modal kecil, Anda bisa memulai investasi saham di platform equity crowdfunding. Equity crowdfunding merupakan skema pendanaan untuk bisnis kecil dengan cara patungan dari masyarakat luas untuk mendanai UMKM. Melalui equity crowdfunding, Anda bisa menjadi salah satu pemilik saham bisnis potensial yang menguntungkan untuk bisa didanai. LandX merupakan platform equity crowdfunding dimana Anda bisa berinvestasi pada berbagai sektor bisnis mulai dari 1 jutaan saja. Mulai dari bisnis coffee shop hingga properti, Anda bisa memilih sesuai dengan analisis Anda. LandX telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan OJK, sehingga terpercaya menjadi platform patungan bisnis yang aman dan transparan. Mulai Langkah Kecil Investasimu dengan Download Aplikasi LandX! Jakarta - PT Tbk BUKA mencatat total processing value TPV atau nilai pemprosesan total selama kuartal II 2021 tumbuh 56 persen menjadi Rp 29,4 triliun. Sementara itu, TPV tumbuh 54 persen menjadi Rp 56,7 triliun pada semester I 2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan TPV perseroan didukung oleh kenaikan jumlah transaksi sebesar 15 persen dan kenaikan sebesar 34 persen pada average transaction value ATV sepanjang semester I 2020-semester I 2021. Umumnya, valuasi startup didasarkan pada perhitungan EV/GMV enterprise value/gross merchandise value. Berbeda, Bukalapak menggunakan TVP sebagai acuan. Direktur Utama PT Rachmat Kaimuddin menjelaskan alasan Perseroan memilih TPV lantaran lebih sesuai dengan model bisnis Perseroan. “Jadi kita memutuskan menggunakan TPV karena kita yakini ini mungkin adalah matriks yang lebih tepat untuk gambarkan transaksi yang terjadi di Bukalapak,” kata Rachmat dalam paparan publik, Selasa 19/10/2021. Jurus Bukalapak Dongkrak Pendapatan Mitra Bukalapak Grab dan Emtek Target Jadikan UMKM Indonesia Raksasa Digital Dunia Menkop Ingin KotaMasaDepan Bantu UMKM Pulih dari Dampak Pandemi Sebagai perbandingan, Rachmat mengatakan, di Indonesia tidak semua GMV dapat terbayarkan. GMV gross merchandise value atau nilai barang dagangan kotor adalah merupakan volume rupiah dari pembelian yang difasilitasi oleh platform Bukalapak. Perhitungan GMV ada kemungkinan memasukkan juga nilai transaksi yang dibatalkan dan tertunda. Sedangkan TVP total processing value atau nilai pemrosesan total, hanya memperhitungkan nilai transaksi yang diproses. * Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang resmi melantai di bursa dengan kode saham BUKA, menorehkan sejarah baru karena jadi Unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia bahkan di kawasan Asia Tenggara. Tidak dapat dipungkiri jika saham merupakan salah satu instrumen investasi yang kerap dipilih oleh investor, khususnya yang telah berpengalaman. Investasi saham sendiri merujuk pada aktivitas menanam modal dengan cara membeli sebagian kepemilikan dari sebuah perusahaan atau institusi. Membeli saham sebuah perusahaan artinya percaya bahwa prospek dari perusahaan yang bersangkutan bakal terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tapi, tahukah kamu jika dalam dunia investasi saham, terdapat 2 jenis saham yang penting untuk diketahui oleh para investor? Kedua jenis saham tersebut dikenal dengan istilah value stocks dan juga growth stocks. Keduanya tentu memiliki keunggulan dan kekurangannya tersendiri yang mampu memberi pengaruh signifikan terhadap potensi keuntungan investasi saham dan strategi yang dipilih oleh investor. Lalu, yang menjadi pertanyaan, apa sih yang dimaksud dengan value stocks dan growth stocks ini? Juga, apa saja perbedaan antara keduanya yang harus dipahami betul oleh para investor agar mampu mengoptimalkan keuntungan investasinya? Tanpa panjang lebar lagi, simak penjelasan tentang apa itu value stocks, growth stocks, dan perbedaan umum antara keduanya berikut ini. Apa Itu Value Stocks? Sejatinya, investasi saham adalah bentuk aktivitas investasi berjangka panjang. Investasi pada instrumen saham sebaiknya dilakukan dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan nilai wajar sebuah produk saham yang didapatkan dari proses analisis kinerja perusahaan yang diincar. Nah, terkait value stocks sendiri adalah jenis saham yang mana mencakup produk saham yang ditransaksikan pada pasar saham dengan nilai lebih rendah ketimbang nilai perusahaan yang sebenarnya. Artinya, nilai saham sebuah perusahaan relatif lebih rendah ketimbang kinerjanya jika mengacu dari laporan keuangan yang mencerminkan pendapatan, aset, arus kas, beban operasional, serta berbagai aspek lainnya. Baca Juga Index S&P 500 Definisi, Manfaat, hingga Daftar Perusahaannya Karakteristik Value Stock Terdapat beragam karakteristik yang dimiliki oleh produk saham dengan jenis value stocks ini, antara lain Rasio valuasi yang dijadikan sebagai dasar perhitungan nilai saham menggambarkan harga perdagangan yang lebih rendah dibanding nilai wajarnya saat ini. Rasio yang biasa digunakan tersebut adalah PBV atau Price to Book Value yang berada di bawah nilai 1 dan bisa dikatakan jika nilai sahamnya masih undervalue. Alasannya karena saham diperdagangkan dengan harga di bawah nilai bukunya. Rasio valuasi saham jenis value stocks juga bisa digunakan dengan PER atau Price to Earning Ratio yang mana saham bisa dikatakan undervalue apabila nilainya lebih kecil dibanding rerata angka PER sebelumnya, maupun di bawah rerata kompetitor lainnya pada industri bisnis yang sama. Value stocks juga biasanya dialami oleh perusahaan besar yang memiliki kinerja cukup baik. Namun, pelaku pasar tak memiliki minat terhadap penjualan sahamnya sehingga membuat harga yang diperdagangkan relatif rendah. Karakteristik value stocks lainnya adalah jenis saham ini bisa terjadi ketika persepsi dari pelaku pasar menganggap bahwa saham tersebut akan cenderung melemah dan membuat nilainya menurun. Padahal, jika melihat dari kinerja keuangan perusahaannya, saham tersebut mempunyai nilai yang lebih tinggi. Apa Itu Growth Stocks? Sementara suatu saham bisa dikatakan sebagai jenis growth stocks ketika mempunyai tingkat pendapatan dan penjualan yang terus bertumbuh secara pesat ataupun hingga melebihi pertumbuhan ekonomi dan jenis saham lain dalam industri yang sama. Perusahaan dengan jenis saham growth stocks umumnya bergerak dengan agresif pada sektor bisnisnya dan gencar melakukan pengembangan serta ekspansi terhadap usahanya. Akan tetapi, di sisi lain, karena terlalu berfokus pada ekspansi bisnis tersebut, sering kali emiten atau perusahaan dengan karakteristik growth stock ini tak memberi dividen pada para pemilik sahamnya. Hal ini tentu saja diakibatkan karena arus kas perusahaan difokuskan untuk melakukan ekspansi dan percepatan terhadap pertumbuhan bisnisnya. Tapi, sebagai gantinya, nilai saham yang dimiliki oleh investor memiliki peluang untuk melambung di waktu yang akan datang. Saham dengan jenis growth stocks mempunyai prospek pertumbuhan penghasilan dan juga laba yang pesat di masa depan, walaupun saat ini bisa dibilang kinerjanya masih mencatatkan kerugian bersih. Jenis saham ini umumnya bisa ditemukan pada emiten berskala kecil atau menengah karena aktivitas bisnisnya baru berjalan. Tapi, jika melihat kinerjanya beberapa waktu mendatang, potensi pertumbuhan bisnis dari perusahaan dengan jenis saham ini begitu menjanjikan dibanding emiten lainnya. Baca Juga TradingView, Platform Analisis Perdagangan yang Friendly untuk Pemula! Karakteristik Growth Stock Sama halnya dengan value stocks, saham growth stocks juga mempunyai beragam karakteristik yang perlu dipahami oleh investor. Berikut beberapa di antaranya. Emiten dengan jenis saham growth stocks biasanya mempunyai keunggulan dalam aspek kompetitif atau persaingan dengan para kompetitor di industri bisnis yang sama. Emiten dengan golongan growth stocks tersebut juga biasanya mempunyai PER yang relatif lebih tinggi ketimbang perusahaan lain. Karakteristik lainnya, perusahaan dengan jenis saham growth stocks juga sering kali tak membagikan dividen sama sekali pada para investornya. Kalaupun berniat untuk memberi dividen, nilainya bisa sangat kecil dan tak terlalu berpengaruh terhadap keuntungan investor. Penyebabnya tidak lain karena perusahaan lebih memfokuskan keuangannya untuk melakukan ekspansi terhadap bisnisnya agar pertumbuhannya menjadi lebih pesat. Perbedaan Antara Value Stocks dengan Growth Stocks Bagi yang belum tahu, mungkin saham jenis value stocks dan growth stocks dianggap identik dan tak memiliki perbedaan yang signifikan. Padahal, keduanya mempunyai ciri khas dan karakteristik yang unik, serta amat mempengaruhi strategi investor dalam berinvestasi. Nah, berikut adalah beberapa poin perbedaan umum antara saham jenis value stocks dan growth stocks yang penting untuk dipahami oleh para pemilik modal sebelum berinvestasi. Harga Saham Mengenai harga sahamnya, value stock merupakan saham yang diperjualbelikan dengan harga lebih rendah pada pasar modal. Nilai dari saham ini bahkan dianggap jauh lebih kecil ketimbang nilai intrinsik perusahaan jika melihat dari kinerja atau laporan keuangannya. Sedangkan pada saham jenis growth stocks adalah saham yang diperjualbelikan dengan harga yang lebih tinggi pada pasar modal ketimbang nilai intrinsik perusahaannya. Alasannya karena jenis saham ini mempunyai peluang cukup besar dalam menjalankan ekspansi bisnis atau meraih tingkat pertumbuhan tertentu. Karena alasan itulah mengapa investor berani membeli saham growth stocks dengan harga tinggi dari nilai sebenarnya. Price to Earning Ratio Perbedaan lainnya terletak dari rasio PE atau price to earning ratio. Pada saham value stocks, rasio ini biasanya mempunyai nilai yang setara atau lebih kecil ketimbang pasar yang menggambarkan rekam jejak pendapatan bagi investor. Di sisi lain, saham growth stocks mempunyai rasio PE yang umumnya lebih tinggi ketimbang pasar. Pembagian Dividen Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perusahaan dengan jenis saham value stocks sering kali membagikan dividen kepada para investornya dengan jumlah yang besar. Sebaliknya, perusahaan dengan saham growth stocks cenderung tak membagikan dividen pada investornya sama sekali atau dengan nominal yang kecil saja. Penyebabnya tidak lain karena perusahaan dengan jenis saham ini lebih memfokuskan keuangannya pada pengembangan dan ekspansi bisnis. Risiko yang Mungkin Muncul Perbedaan yang terakhir antara saham jenis value stocks dengan growth stocks terletak pada risiko yang mungkin muncul pada investor atau pemilik modal. Karena umumnya dimiliki oleh perusahaan yang sudah besar dan memiliki kinerja yang terjamin, berinvestasi di saham jenis value stocks bisa dibilang lebih aman dan minim risiko. Sedangkan untuk saham jenis growth stocks, karena umumnya dimiliki oleh perusahaan kecil atau menengah yang sedang fokus mengembangkan bisnisnya, risiko ketidakpastian yang dialami oleh investor tentu lebih tinggi. Dalam kata lain, risiko kerugian yang mungkin dialami oleh investor growth stocks relatif lebih tinggi, walaupun peluang keuntungan yang bisa didapatkannya juga tak kalah menjanjikannya. Jadi, Sudah Tahu Jenis Saham Mana yang Cocok dengan Strategi Investasi Sahammu? Pada dasarnya, baik saham jenis growth stocks maupun value stocks mempunyai keunggulan dan kekurangannya tersendiri. Tugas kamu sebagai investor adalah menyesuaikan kelebihan dan kelemahan tersebut dengan strategi dan tujuan investasi. Dengan begitu, peluang mendapatkan keuntungan yang optimal dari aktivitas menanam modal akan menjadi jauh lebih tinggi. Baca Juga Trading Saham Halal atau Haram? Begini Hukumnya Menurut Islam dan Tips Trading Syariah